Cara Membuat Canang dari Daun Pisang

Canang merupakan sarana upakara bagi umat hindu dalam pemahaman Yadnya setiap hari. Kenapa Yadnya?
Karena Yadnya adalah Korban suci yang dipersembahkan dengan rasa tulus dan ikhlas. Jadi, apapun yang kita haturkan dengan tanpa beban akan diterima oleh alam ini.

Ada Lima Yadnya yang diterapkan oleh Umat Hindu (Dewa Yadnya, Pitra Yadnya, Manusia Yadnya, Rsi Yadnya dan Bhuta Yadnya).

Semuanya Konsep Yadnya ini akan di bahas dalam postingan berbeda, dan di artikel hari ini akan kita bahas mengenai Yadnya yang pertama.
DEWA YADNYA
Salah satu cara menerapkan Dewa Yadnya (persembahan tulus ikhlas kepada Tuhan) dengan mengaturkan canang.
Terus, bagaimana caranya membuat canang?
Kita akan ulas demi menjaga kebudayaan Bali tetap ajeg.

Tahapan Pembuatan Canang yang ditampilakan sekarang, terbuat dari bahan Daun Pisang (Canang Genten). Ikuti Proses pembuatannya dengan melihat gambarnya langsung;

Pertama,
> Persiapkan Alat dan Bahan upakara yang bersih
> Alat dan bahan ini misalnya; Pisau, Semat (sebuah stick dari bambu), Daun pisang yang masih hijau.
> Pisau yang digunakan, khusus untuk mejejaitan, jangan digunakan untuk menyemblih hewan karena sudah tercampur dengan darah (nanti konsep yadnya_nya berbeda).
> Pembuatan canang agar memiliki TAKSU didalamnya harus ada inti atau poros, sehingga kelengkapan inti ini Kita sebut dengan Porosan. Wajib bagi umat Hindu, mengetahui makna Porosan agar cara pembuatannya tidak salah.
> Bahan lainnya yaitu; Variasi Warna Bunga (bunga yang baik adalah yang masih segar dan tidak bekas/layu. Bunga yang berisi semut, bunga dari kuburan atau bunga yang tidak utuh sebaiknya tidak digunakan, hal ini sesuai dengan sastra Hindu). Pahami juga konsep Dewata Nawa Sanga.
> Sarana terakhir adalah Kembang rampe (sam-sam), dimana bahan ini dari daun pandan wangi yang di iris tipis. Jika di Daerah Karangasem, Kembang rampe sering disebut dengan Sam-Sam. Maknanya jika di kembangkan dari sumber yaitu;
  • Kembang memiliki persamaan dengan Bunga,
  • Rampe memiliki makna keanekaragaman atau bermacam-macam,
  • Jika di lihat dari posisinya (di atas bunga dan porosan) terletak di tengah-tengah, maka warna Panca atau brumbun menjadi simbol kembang rampe. Dengan begitu, Dewa Siwa berstana di posisi ini.
tips melajah.com

Kedua,
> Setelah kelengkapan di atas sudah ada, kita rangkai dengan mengambil Daun Pisang terlebih dahulu.
> Ukurannya kira-kira lebar 5 cm dan panjang 15 cm,
> Lipat dan rangkai  membentuk segitiga (ikuti seperti gambar),
> Selanjutnya stick dari bambu (semat) ini sebagai pemegang agar lipatan daun tidak lepas,
> Setelah daun tadi membentuk Canang, saatnya merangkainya,
melajah.com


Ketiga,
> Pertama cucilah bahan yang diperlukan,
> Isilah porosan terlebih dahulu, karena tanpa porosan artinya Canang yang dibuat tidak memiliki taksu,
> Selanjutnya, Bunga di rangkai dengan warna yang sesuai (kalau bisa konsepnya mengikuti arah mata angin). Contoh; di Utara warna hitam Dewa Wisnu, Bunga putih di timur Dewanya Iswara, Bunga Kuning di Barat Dewanya Mahadewa dan Selatan Dewa Brahma dengan warna Merah. Untuk timur laut Warna Abu-abu Dewanya Sambu, Warna Merah Muda di Tenggara Dewanya Mahesora, Posisi Barat Daya Dewanya Rudra dengan warna Jingga dan Barat Laut Dewa Sangkara dengan warna Hijau.
tips melajah.com
Ketika membuat Canang makna ketulusan tertuang didalamnya serta di saat merangkai bahannya disinilah terbentuk keikhlasan dan kesabaran teruji.

Dalam keseharian, ada tiga bentuk canang yang hampir setiap hari kita lihat di Bali (khususnya), yaitu;
  • Bentuk Segi_empat (ceper)
  • Bentuk Lingkaran
  • Bentuk Segitiga
Ketiga jika di konsep berdasarkan Siwa Sidanta, maka maknanya akan berbeda. Berikut makna yang didapatkan dari sumber terpercaya;
Canang Segi-empat menyimbulkan Kejiwaan, Lingkaran menyimbulkan Spirit dan Segitiga menyimbulkan dunia material.
Menurut sumber Ida Pandita Mpu Jaya Acharya Nanda; Canang yang berbentuk Segitiga biasanya terbuat dari daun pisang, tidak layak untuk dihaturkan ke luhur (atas). Jadi, solusinya untuk umat yang ingin berYadnya (mengaturkan Canang), persembahkan bentuk Lingkaran dan Segi-empat (biasanya dari Janur).

Namun, karena di Bali menganut konsep tulus dan ikhlas (Yadnya), maka apapun yang kita aturkan dengan tulus pastinya akan diterima dan keseimbangan alam akan terjaga.


Canang bisa dikonsepkan dalam Tri Hita Karana, dimana manusia wajib menjaga keseimbangan dengan Tuhan, sesama manusia dan alam.
Semoga postingan ini bermanfaat.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel