KONSEP YADNYA MENURUT MELAJAH

Hindu adalah sebuah agama yang kental dengan upacara Yadnya, didalamnya terdapat konsep Keseimbangan alam untuk keberlangsungan hidup yang sesungguhnya.

Dasar pemikiran ini, didapatkan dari tahapan hidup yang saya alami. Mungkin saja, ada beberapa pemikiran sama atau lebih luas dari konsepnya.
Pemahaman konsep Yadnya dalam Hindu

Jika search di media internet, Pengertian Yadnya akan luas pemahamannya. Mulai dari pengertian, Tujuan dan bagian-bagiannya, inilah hasil pencarian di internet;
  • Yadnya berasal dari kata Yaj yang artinya korban suci, persembahan tulus, pemujaan, upacara kurban
  • Dalam Bhagawadgita memiliki makna persembahan dengan tulus ikhlas yang dilakukan dengan sadar kepada Tuhan.
  • Tujuan berYadnya dalam kitab Manawa Dharmasastra VI.35; Jika Tiga Hutang telah terbayar (Tuhan, leluhur, orang tua) hendaknya menunjukan pemikirannya untuk mencapai kebebasan terakhir.
  • Dalam bahasa Sansekerta sering disebut dengan Tri Rna, dimana di dalam melaksakannnya menimbulkan konsep Panca Yadnya. 

Panca Yadnya terdiri dari lima bagian, yaitu;
  1. Dewa Yadnya, adalah Kurban suci yang tulus ikhlas dan ditunjukan kepada Tuhan (seperti; Tri Sandhya, Punama, Tilem, Galungan, Kuningan)
  2. Pitra Yadnya, adalah Kurban suci yang tulus ikhlas dan ditunjukan kepada Pitare / Leluhur (seperti; Ngaben yang dasar pelaksanaannya terdiri dari dua; Sawa Wedana untuk mengembalikan unsur Panca Maha Bhuta ke asalnya dan Atma Wedana seperti nyekah/puspa dan upacara dikenal dengan Ngeroras, Mamukur, NGasti atau Maligia.
  3. Rsi Yadnya, adalah Kurban suci yang tulus ikhlas dan ditunjukan kepada para Resi atau Guru. Nabe yang telah memberikan penyucian (seperti; Upacara Eka Jati/ Mewinten= menjadi pemangku, Dwi Jati/ Mediksa= menjadi Pandita, Mpu)
  4. Manusa Yadnya, adalah Kurban suci yang tulus ikhlas dan ditunjukan kepada kesucian lahir batin manusia/ keselamatan manusia secara langsung. Seperti;          
    a.       Upacara Bayi dalam kandungan (Garbha Wadana/pagedong-gedongan).
    b.       Upacara bayi baru lahir,
    c.             Upacara kepus puser,
    d.            Upacara bayi berumur 42 hari (tutug kambuhan),
    e.             Upacara bayi berumur 105 hari (Nyambutin)
    f.             Upacara bayi satu oton (otonan),
    g.            Upacara meningkat remaja ( yang laki disebut Ngraja Singa, yang wanita disebut Ngraja Sewala),
    h.            Upacara potong gigi (matatah, mapandes, masangih),
    i.              Upacara perkawinan (wiwaha)
  5. Bhuta Yadnya, adalah Kurban suci yang tulus ikhlas dan ditunjukan kepada Para Bhuta atau mahluk yang di bawah (semut, bakteri, hewan, baik sekala niskala). Seperti;
a.      Upacara Mecaru,
b.      Ngaturang Segehan,
c.       Upacara Taur
d.      Upacara Panca Wali Krama (dilaksanakan setiap 10 tahun sekali di Pura Agung Besakih)
e.       Upacara Eka Dasa Rudra (dilaksanakan setiap 100 tahun sekali di Pura Agung Besakih).
Kualitas Yadyna
Menurut Bhagawadgita XVII, 11, 12, dan 13, menyebutkan ada tiga tingkatan yadnya dilihat dari segi kualitasnya. Tiga yadnya itu antara lain:
1. Satwika yajna : yaitu yadnya yang dilakukan sesuai dengan kitab-kitab suci, dilakukan tanpa mengharapkan pahala, dan percaya sepenuhnya bahwa upacara ini sebagai tugas dan kewajiban.
2. Tamasika yajna yaitu yadnya yang dilakukan dengan mengharapkan ganjaran/ hasil dan semata-mata untuk kemegahan.
3. Rajasika yajna yaitu yadnya yang dilakukan tanpa aturan (bertentangan), makanan tidak dihidangkan, tanpa mantra, sedekah dan keyakinan.
Jika sudah memahami Yadnya secara garis besar, kini konsep yang bisa disimpulkan oleh Blog MELAJAH, sebagai berikut;
  • Yadnya dilakukan dengan dasar dari hati yang tulus ikhlas.
  • Apabila ingin beryadnya dengan keinginan pamrih dikemudian hari, sebaiknya urungkan saja. logikanya jika  ber-Yadnya dengan keinginan imbalan, maka yadnya tersebut akan percuma (sia-sia).
  • Jangan melalukan yadnya jika ada beban di pikiran dan di hati.
  • Ketika beryadnya, jangan dihitung jumlah dan besarnya. 
  • Jangan pikirkan pemberian kita ke orang tapi pikirkan yang diberikan orang ke kita.
  • Ketika beryadnya, jangan memberi dengan tujuan populer, 
  • Besar kecilnya yadnya, bukan dihitung dari kuantitas namun keikhlasan menjadi tolak ukur yang utama
  • Pahami konsep Tulus ikhlas, hal ini  sesuai karakter untuk memahami konsepnya dari dasar hati yang paling dalam
  • Yadnya banyak penerapannya seperti; Dana Punia, ngaturang Banten, Mebhakti, Yadnya sesa, ngaturang canang, membuat upakara dan menolong semua mahluk hidup

Demikian pemikiran dari Admin Blog melajah.
Semoga dipahami dan merubah generasi Manusia khususnya Umat Hindu.
Tambahkan Konsepnya jika memiliki cara atau pemahaman lain mengenai Yadnya.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel