MITOLOGIS DEWA SIWA (Hal. 13)

Om Awignam Astu Namo Sidham 

Om Sidhirastu Tad Astu Astu Swaha

Sang Nilakantha


Karya yang sangat modern dari Imajinasi Amish. Kisah Mitologis yang dikemas dalam gaya modern dimana narasinya akan mencipakan antisipasi di benak pembaca dan mengundang rasa penasaran yang besar bagi pembaca.

Imajinasi Amish, menambang masa lalu dan menyulingnya menjadi kemungkinan-kemungkinan masa depan. Karya yang orisinil dan mengunggah, membuka ceruk-ceruk terdalam di jiwa dan kesadaran kolektif manusia.

Artikel ini dibuat, sebagai ringkasan dari sebuah buku terbaik Karya Amish yang intinya mengisahkan Dewa Siwa dengan persepektif baru dan menyegarkan. Untuk pecinta sejarah tidak akan berhenti membacanya sebelum kisahnya berkahir.

Kisahnya yang mencekam yang menggabungkan adegan laga dengan ujaran filsafat yang mendalam. Di dalam buku ini terdapat aksi dan intrik demi memunculkan rasa penasaran pembaca.

Tidak perlu diragukan, Amish mampu mengayun imajinasi perjalanan Siwa dari seorang Manusia biasa menjadi Mahadewa melambungkan pikiran pemaca.

Trilogi Siwa dipuji sebagai Lord of the Rings India.
Pemahaman Mitologis Siwa menurut Buku Siwa oleh Amish
Karya Cinta, dimana Amish memanusiakan tokoh-tokohnya dan merupakan kelangkaan untuk sebagai besar penulis populer di India. Cerita yang berkesan, Amish mampu menceritakan dengan cemerlang dan luar biasanya dalam adegan laga, perang berdarah dan pertarungan emosi yang kasar akan membuat para produeser film terkesima.

Trilogi Siwa merupakan mytho-thriller cemerlang dengan bumbu-bumbu yang menarik. Dalam cerita yang kokoh dan solid menyajikan adegan perang akan membuat para pembaca serius menyimaknya.

Inilah cerita dimulai dari Halaman Perdana (hal. 13)

Sang Nilakantha
1900 SM, Danau Manasarowara, kaki Gunung Kailasha, Tibet
Siwa memandang cakrawala jingga. Gumpalan awan yang melayang di atas Danau Manasarowara baru saja berpencar, memampang panorama matahari terbenam yang mencengangkan. Pemberi kehidupan yang gilang-gemilang itu menutup harinya sekali lagi. Menginjak usia yang kedua puluh satu, lelaki itu tak terlalu sering melihat matahari terbit. Berbeda dengan matahri terbenam yang sering ia saksikan dan ia berusaha tidak melewatkannya. Pada hari-hari biasanya, ia menyaksikan pemandangan matahari dan danau raksasa berlatar belakang Pegunungan Himalaya nan megah, membentang sejauh mata memandang.

Tapi tidak hari ini.

Tubuhnya yang gempal namun lentur bertengger di atas baru cadas yang menjorok ke danau. Luka-luka bekas pertempuran di kulitnya berkilau-kilau diterpa cahaya yang memantul dari permukaan danau. Ia terkenang masa kanak-kanaknya yang riang. Ia menguasai seni melempar batu yang memantul-mantul dipermukaan danau. Di sukunya dialah yang terbaik dalam seni itu: tujuh belas kali pantulan sekali lempar.

Pada hari sebelumnya ia kerap tersenyum mengingat masa lalunya nan ceria, yang kini terbebani selaksa kecemasan. Hari ini ia kembali ke desanya tanpa kegembiraan sedikit pun.

Bhadra menjaga gerbang masuk utama desanya dengan waspada . Siwa memberi isyarat dengan matanya.  Bhadra berbalik dan melihat dua prajurit cadangannya tertidur bersandar di pagar. Ia memaki dan menendang mereka dengan keras.
Siwa kembali berpaling ke danau.

Cerita bersambung....
Halaman 14

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel