MITOLOGIS DEWA SIWA (HAL. 15 DAN 16)

Halaman Sebelumnya (14)

Sang Nilakantha

Ia membayangkan, dirinya pasti tidak akan menjadi pemimpin di negeri baru itu.
  Apa di sana aku masih ingin menjadi pemimpin seperti sekarang?

Rakyatnya harus hidup mengikuti aturan orang asing. Mereka harus bekerja setiap hari untuk hidup.
  Tapi itu lebih baik daripada bertarung setiap hari hanya untuk bertahan hidup!


Siwa menghisap cangklongnya lagi. Ketika kepul asapnya kembali memudar, ia menoleh dan menatap pondok di tengah-tengah desanya, tepat disebelah pondoknya sendiri. Disanalah orang asing itu ditempatkan. Orang asing itu telah diberi tahu bahwa ia bisa tidur disana dengan nyaman. Sesungguhnya ia ingin menahannya di sana sebagai sandera, berjaga-jaga dari segala kemungkinan.

   Kami berperang hampir setiap bulan melawan suku Pakrati hanya agar desa kami bisa bertahan di dekat danau suci ini. Mereka semakin kuat setiap tahun, membentuk persekutuan dengan suku-suku baru. Kami bisa mengalahkan Suku Pakrati, tetapi tidak bisa mengalahkan semua suku pegunungan sekaligus! Dengan pindah ke Meluha, kami dapoat menghindari pertempuran sia-sia ini dan mungkin bisa menjalani kehidupan dengan nyaman. Apa yang salah dengan tawaran itu? Kenapa kami tidak menerimanya? Tampaknya sangat menjanjikan!

Siwa menghisap cangklongnya untuk yang terakhir kali sebelum mengetukannya pada batu, membiarkan abunya keluar, kemudian ia beranjak dengan cepat dari tempatnya bertengger. Ia mengusap letikan-letikan abu dari dada telanjangnya, mengelapkan tangannya ke rok kulit macannya, kemudian berjalan cepat menuju desanya. Bhadra dan pengawalnya berdiri berdiri tegak ketika siwa melewati gerbang. Ia mengerutkan kening dan memberikan isyarat pada Bhadra agar bersikap lebih santai.
Bhadra dalam siwa
Kenapa ia selalu lupa bahwa dirinya adalah teman karibku sejak kecil? Meskipun aku kepala suku, keakrabanku dengannya tidak akan berubah. Ia tidak perlu bersikap merendah seperti itu di depan orang lain.

Pondok-pondok di desanya cukup mewah dibandingkan dengan pondok-pondok lain. Seorang pria dewasa bisa berdiri tegak di dalamnya. Pondok tersebut mampu memberikan perlindungan dari terpaan angin gunung selama hampir tiga tahun sebelum akhirnya menyerah pada alam. Siwa melemparkan cangklongnya yang kosong ke pondoknya seraya melangkah menuju pondok tempat tamunya tertidur nyenyak.

Apa ia tidak sadar dirinya tengah disandera? ataukah ia berkeyakinan bahwa perilaku yang baik akan mengundang perilaku yang baik pula?

Siwa teringat pada paman sekaligus gurunya yang selalu berkata "Orang-orang bersikap sesuai dengan sikap yang mereka terima. Jika orang-orang disekitarnya menunjukan kepercayaan, mereka pun akan bersikap sama".

Orang-orang Meluha sana pastilah saling mempercayai, sehingga bahkan para prajuritnya pun mengira bisa mempercayai orang asing seperti kami.


Siwa menggaruk janggutnya yang awut-awutan seraya menatap tajam tamunya.
Dia bilang namanya Nandi

Tubuh besar orang Meluha itu tampak lebih besar ketika berbaring di lantai, perut besarnya bergoyang setiap kali ia menarik napas. Meksipun gemuk, kulitnya tampak kencang. Wajahnya seperti anak-anak yang polos saat ia tidur dengan mulut setengah terbuka.

Apakah orang ini yang akan mengantar diriku menuju sungai takdirku? Akahkah aku menjalani takdir seperti yang dikatakan pamanku?


Bersambung........

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel