KISAH BEBAHI (SAKIT NON MEDIS) MAHKLUK HALUS BUATAN MANUSIA

Kisah Bebai

Sebuah Kepercayaan yang memang nyata bisa terjadi di dalam era-digital. Bagaimana proses Bebahi atau Bebainan ini terjadi?

Bebainan bisa dikatakan sebagai penyakit non-medis yang secara kasat mata tidak bisa dilihat mata normal. Namun orang yang terkena penyakit ini, biasanya ditempeli oleh mahkluk halus dan berdampak pada nalar mental seseorang yaitu menjadi down (gila). 

Mahkluk inilah yang disebut dengan bebahi atau dalam bahasa Bali (keseharian) terkena Bebai. Mahkluk halus yang sengaja dihidupkan dalam sebuah ritual, biasanya dilakukan oleh penekun ilmu Pengleakan. Bebahi ini terbentuk dari kumpulan organ manusia (kulit, otak, darah keguruan, darah orang salah pati) ditambah ritual khusus untuk menghidupkan jiwanya. Organ yang paling mujarab adalah dari janin orang yang mengalami keguguran.
Para pembuat bibit bebai, biasanya menggunakan kanda Pat (empat saudara janin) agar lebih mujarab.

Ilmu Kawisesan ini biasanya (mayoritas) menyerang wanita, karena wanita dianggap lebih lemah tenaganya jika dibandingkan dengan laki-laki. Selain itu, sang penyerang harus memiliki dendam atau iri_hati agar ilmu Bebai berjalan dengan lancar. Untuk mendapatkan ilmu Bebai yang kuat, biasanya dibuat oleh pemangku Pura Dalem, karena ada ritual penanaman 42 hari di pelataran Dalem dan jika dibandingkan dengan pembuatan bebai oleh orang biasa, kekuatannya mungkin tidak sebanding dengan Bebai buatan Pemangku Dalem..
Bebai adalah ilmu pengleakan Bali dengan metode pemanfaatan organ manusia yang sudah meninggal.

Untuk janin yang digunakan berumur tiga bulan dan besarnya seujung hulu keris serta sudah membentuk rupa manusia (sudah terlihat kepala dan badan).
Janin yang diawetkan (dikeringkan) disimpan dalam peti kecil selanjutnya dibuatkan upacara sesuai dengan kelahiran bayi, seperti kepus puser, tutug kambuhan, tiga bulanan dan otonan.

Semua tahap dijalankan dengan rahasia sampai penyimpanannya tidak boleh ada yang tahu, Jika hal tersebut dilanggar maka kemanjuran ilmu bebai akan berdampak negatif terhadap sipembuatnya.

Berdasarkan sumber penekun ilmu ini;
Ketika sang Janin berumur satu otonan atau enam bulan kalender Bali, janin dibawa ke kuburan dan harinya yang bagus yaitu Kajeng Kliwon.
Permohonan dihadapkan kepada Bhatari Durga untuk sinar kekuatan ke janinnya dan anugerah tersebut jika terpenuhi seketika itu Sang janin dikatakan sebagai mahkluk halus atau Rare Wong yang siap menunjukan kesaktiannya

Janin yang sudah dikatakan sebagai bebai ini, wajib diberikan sesajen untuk hari-hari tertentu. Contoh hari pemberian sesajen yaitu Rahianan Purnama, Tilem, Kajeng Klion, serta hari otonan sang janin. Eksistensi dari Bebahi ini akan semakin kuat jika rajin memberikan sesajen dan siap mencelakai orang.

Sesajen yang diberikan biasanya berupa Nasi Panca warna atau Lima warna sesuai dengan arah mata angin Dewata Nawa Sanga.
Sesajen ditambahkan dengan Lauk Ayam hitam (ayam Cemani). Jika penjaga rumah sang korban (Penunggu Karang) tidak kuat memprotect karangnya maka Bebahian ini akan sangat mudah menyakiti penghuni rumah.

Korban bebaian akan terlihat down (lost control), teriak tidak menentu, mengamuk seperti orang gila, menangis dan sikapnya tidak seperti orang normal.
Terkadang jika aliran ilmu penengen bisa mengusir Bebahi ini, maka dari tubuh korban akan berbicara siapa majikannya dan disuruh pergi untuk tidak menggangu lagi.

Bebahi ini berbeda dengan cetik, namun serupa jenis gaibnya. Jika cetik adalah serangan racun gaib dan Bebahi lebih kepada serangan mahkluk halus.

Trik untuk terhindar dari serangan ilmu Bebahi:
  • Sesuai sumber Siwa Purana; Cara yang paling ampuh untuk terhindar dari ilmu negatif adalah dengan SRAVANAM, KIRTANAM, MAMANAM.
  • Sravanam; Dengarkanlah cerita-cerita para dewa
  • Kirtanam; Dengan memuji, mengagungkan nama tuhan
  • Mamanam; Dengan bermeditasi dan pusat pikiran kepada Tuhan Hyang Maha Esa.


carita Magic Bebai oleh Web MELAJAH.COM

Tips Mengobati Korban yang sudah terkena Bebai:
  • Gunakanlah tiga lembar daun sirih, Di dalam Buku Usadha (buku sumber aksara Bali) disusun oleh Ngurah Nala, dikatakan bahwa Balian (dukun) dapat menghubungkan Api dengan Api orang sakit, maka pasien tersebut dapat ditolong.
  • Gunakan sarana khusus dimana dikombinasikan dengan penerapan Dasa_Aksara, agar bisa memasukan Api (Ang) ke dalam tubuh pasien.
  • Jika Api (Ang) ini sudah dipusatkan di pusar (Nabhi), ambilah tiga lembar daun sirih Gang, serta di tiap lembarnya ditulis Dasa_Aksara.
  • DASA_AKSARA ini adalah Sang, Bang, Tang, Ang, Ing, Nang, Mang, Sing, Wang, Yang.
  • Ketiga daun sirih dilipat menjadi satu, dibubuhi kapur seperti orang memakan sirih. Dibacakan mantra Pasupat dan mantra Pangurip. Lalu pasien disuruh untuk menguyah daun sirih tersebut.
  • Apabila pasien menjerit, maka dapat dipastikan Bebahi tersebut di aliri Api (Ang) dan baru dimasukan melalui kunyahan daun sirih. Penyakit non_medis ini akan keluar tubuh dan si pasien akan sembuh seperti semula.
  • Untuk jenis Bebahi yang lebih tinggi tingkatnya, maka penggunaan sarana di atas tidak akan mampu / mempan dibakar api (Ang).

Solusi pencegahannya lainnya yaitu dengan rajin bersembahyang dan Acep kita terfokus kepada Hyang Guru, Bhatara Sangkara (Penunggun Karang) dan Leluhur (Pitara).
Niscaya sinar Kesucian kita akan semakin terpancar dan tidak mudah untuk didekati oleh ilmu negatif.

Lakukanlah Puja Tri_Sandya sebelum tahapan Panca Sembah. Heningkan pikiran dan tidak tergesa-gesa di dalam proses sembahyang.
Tingkat kesucian setiap individu tidak bisa dilihat dengan kasat mata, namun bagi penekun ilmu gaib akan termasyur dengan aura positif yang dikeluarkan oleh orang yang rajin sembahyang.

Semoga artikel ini bermanfaat bagi banyak orang dan pesan saya adalah rajinlah bersembahyang.
Sumber: Instagram @Calonarangtaksu

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel