MENINGKATKAN PARIWISATA BALI DENGAN PEMBATASAN SAMPAH PLASTIK

Cara tingkatkan pariwisata Bali

Meningkatkan Pariwisata Bali Dengan Pembatasan Sampah Plastik

Pulau Bali sebenarnya sudah di kenal oleh masyarakat dunia. Pulau yang terletak di wilayah Indonesia ini memiliki julukan Pulau seribu Pura karena mayoritas umatnya bergama Hindu dan di setiap rumah masyarakatnya memiliki Sanggah (Pelinggih Pura). Pura sebagai tempat suci agama Hindu untuk melaksanakan persembahyangan.

Selanjutnya, Pulau Bali juga sering disebut sebagai Pulau Dewata karena setiap hari masyarakat Hindu di Bali pasti melakukan Yadnya, yaitu Persembahan suci yang tulus. Budaya yang sudah melekat dari leluhur menjadi daya tarik pariwisata asing dan domestik untuk berkunjung ke pulau Bali.

Selain julukan tersebut, Bali juga dikenal sebagai Pulau Surga karena keindahan alam (pantai, gunung, danau, persawahan, dan setiap wilayah memiliki objek wisata yang indah), serta di dukung dengan budaya menghargai nilai-nilai kehidupan yang luhur. Semua tempat di tata dengan indah sehingga orang yang berkunjung ke Bali akan menikmati keindahan, kenyamanan dan kesejukan hati dari alamnya. Namun, semua julukan yang sudah didapatkan akan sirna jika tidak dijaga kelestariannya.

Salah satu dampak negatif beberapa tahun terakhir, karena kurang pedulinya masyarakat pendatang dan lokal terhadap lingkungan di Bali, akhirnya turis asing akan bosan datang ke Bali. Sebagai Contoh; Sampah Plastik berserakan di pantai, laut, sungai, perumahan dan beberapa tempat strategis wisata. 
cara meningkatkan pariwisata dengan pembatasan penggunaan Plastik
 Foto: Sampah di buang sembarang di salah satu perumahan warga

Berkaca dari data di lapangan, 
Tahun 2018 ada seorang wisatawan Inggris mempopulerkan video berenangnya bersama sampak plastik. Dunia luar terkejut dan instansi terkait berbenah mengantisipasi situasi ini. 

Data Science Journal tahun 2015, menyebutkan Indonesia sebagai penghasil sampah kedua terbesar setelah negara China.

Khusus di Bali, proses transaksi jual beli seperti di pasar swalayan, toko, warung, dan pedagang kaki lima menyediakan plastik sebagai pembungkus makanan atau barang yang sudah di beli. 

Meskipun pemerintah sudah menyediakan tong sampah, namun kembali ke karakter manusianya yang kurang memiliki kepedulian terhadap dampak lingkungan yang terjadi dikemudian hari. Tong hanya sebagai simbol, dari 10 orang kemungkinan hanya 50-70% saja peduli membuang sampah di tempatnya (survey dilapangan).

Apabila wisatawan yang datang ke Bali hanya menikmati kebudayaan dan mentari pagi, rasanya sulit untuk menstabilkan situasi ini tanpa keseimbangan kebersihan alamnya.



Jika ingin Meningkatkan pariwisata Bali tentu peran masyarakat dan pelaku pariwisata ikut serta didalamnya. Caranya selain pemerataan pembangunan juga destinasi wisata bisa dibangun secara seimbang.

Kunjungan wisatawan akan terus meningkat ketika tradisi, panorama alam, fasilitas dan kebersihan saling bersinergi. Sebaliknya, wisatawan akan menghilang jika salah satu sinergi ini degradasi.

Kebudayaan yang ada di Bali akan terjaga selamanya membentuk tradisi, (karena adanya awig-awig yang kuat) ditambah dengan panorama alam yang wajib disyukuri dengan menjaga, merawat dan memodifikasi objek wisata yang ada, niscaya ketertarikan wisatawan akan Pulau Bali tetap terjaga.

Fasilitas penginapan, tempat rekreasi, cafe dan bar dirasa sudah memenuhi kriteria kepuasan wisatawan. Tinggal perawatan, ramah tamah pelayanan dan menjamin keamanan untuk wisatawan asing atapun domestik.
cara meningkatkan Pariwisata di Bali
Foto: Penginapan di Canggu, Badung - Bali.

Pulau Bali pernah dinobatkan sebagai pulau wisatawan terbaik di dunia tahun 2015, kini harus berjuang dengan kondisi sampah plastik di berbagai wilayah. Sebuah penelitian Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Udayana, menyatakan sampah yang tersebar di beberapa objek wisata terdiri dari 45% sampah plastik lunak, 15% sampah plastik keras, dan sisanya sampah kayu, karet, baju, gelas dan barang lainnya.

Selanjutnya, sampah Plastik yang dikumpulkan memiliki komposisi 40% kemasan makanan, 17% sedotan, dan plastik kresek 15%. Jenis sampah mikropalstik akan sangat berbahaya bagi biota laut. Tindakan pemerintah daerah mengurangi 70% penggunaan sampah plastik harus bertahap keseluruh daerah di Bali.

Adaftasi masyarakat yang sudah terbiasa setelah berbelanja menggunakan tas plastik, harus diubah sistemnya seperti: membawa tas sendiri dari rumah. Jika dibiasakan, maka satu tahap cara melestarikan lingkungan akan berhasil.

Jadikan Pulau Bali sebagai Pulau liburan, bukan Pulau sampah plastik.

Peraturan yang dibuat tentu tidak langsung terealisasi, fakta dilapangan masyarakat akan bertahap mengikutinya meskipun banyak pro-kontranya.

Pemerintah juga harus memperhatikan pengusaha plastik  dan mencarikan alternatif. Meskipun susah di awal, namun akan sangat baik jika dibiasakan sampai generasi selanjutnya.

Sejalan dengan peraturan tanpa pembungkus plastik, alternatif lain dilakukan oleh beberapa swalayan adalah memberikan tas kain, anyaman atau berbahan kertas. Konsumen akan disarankan membeli atau membawa tas sendiri dari rumah.

Dengan metode ini, lambat laun pembatasan sampah Plastik akan mampu diberlakukan secara menyeluruh di Pulau Bali.

Tingkatkan Pariwisata berkunjung ke Pulau Bali dengan kebersihan lingkungan. Lingkungan yang bersih dimulai dari Pembatasan Sampah Plastik. Kepedulian ini harus diterapkan mulai dari lingkungan keluarga, masyarakat dan dunia.

Hasil yang diharapkan:
> Peraturan Gubernur no. 97 tahun 2018, bisa diimplementasikan menyeluruh ke pelosok wilayah di Bali sehingga kesucian, keharmonisan, keselarasan dan keseimbangan lingkungan hidup dapat terjaga selamanya.
> Pencemaran dan kerusakan lingkungan bisa berkurang dan hilang dengan peraturan ini.
> Peningkatan Wisatawan yang berkunjung ke Bali terus bertambah.
> Apabila peraturan Gubernur ini tidak berdampak signifikan, tentu alternatif penerapan aturan yang lebih ketat bisa direalisasikan, Contohnya: aturan denda seperti negara Kenya dan Australia.
> Kehidupan Manusia, hewan dan tumbuhan akan semakin sehat dan seimbang. Harmonisasi ini akan men-sugesti konsep Tri Hita Karana. Jadi, sebagai masyarakat Bali tentunya memahami dahulu konsep Tri Hita Karana baru bertindak.
Baca juga: Cara Menjaga Taksu Bali dengan Berbusana Adat

Semoga Bumi yang kita cintai ini semakin lestari.
Salam Damai

3 Responses to "MENINGKATKAN PARIWISATA BALI DENGAN PEMBATASAN SAMPAH PLASTIK"

  1. Sampah Plastik memang berbahaya. Lebih lama untuk hancur. Semoga pariwisata bali lebih baik lagi kedepannya.

    ReplyDelete
  2. mantap semoga dengan peraturan pengurangan pemakain bahan plastik bisa menjadi solusi. semoga pariwisata bali tamba maju

    ReplyDelete
  3. mantap semoga dengan peraturan pengurangan pemakaian bahan plastik bisa menjadi solusi dan pariwista di pulau dewata makin rame..

    ReplyDelete

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel