Di Balik Layar "Pesta Babi": Siapa Saja Oligarki yang Menikmati Hasil Bumi Papua?
Menolak Lupa di Tanah Papua: Membedah Gurita Kolonialisme
Modern dalam Dokumenter "Pesta Babi"
Tanah Papua, sebuah wilayah yang kerap dijuluki surga kecil yang jatuh ke bumi, kini tengah menghadapi salah satu babak paling kelam dalam sejarahnya. Di balik kekayaan alamnya yang melimpah, tersimpan jerit tangis masyarakat adat yang ruang hidupnya kian tergerus oleh ambisi pembangunan nasional. Melalui film dokumenter investigatif terbaru bertajuk "PESTA BABI: Kolonialisme 2026" hasil cover video JubirTV, kita diajak untuk melihat realita yang jauh lebih mengerikan daripada sekadar bentrokan fisik di lapangan.
Dokumenter ini bukan sekadar rekaman visual biasa. Mengutip
penjelasan Cypri dalam Ekspedisi Indonesia Baru, "Pesta Babi" adalah
sebuah karya yang berbasis pada penelitian sejarah dan antropologi yang dibalut
investigasi jurnalistik serta analisis kebijakan yang tajam. Judul
"Kolonialisme" dipilih bukan tanpa alasan; kata ini merepresentasikan
hampir keseluruhan cerita dalam film sebagai sebuah kerangka berpikir sistemik.
PERSOALAN di Papua tidak bisa diselesaikan secara parsial karena akar
masalahnya saling berkelindan satu sama lain dalam sebuah struktur yang sudah
berlangsung lama.
Sinopsis: Ketika Ruang Hidup Menjadi Konsesi Proyek
Bayangkan sebuah pagi yang tenang di bulan Mei berubah
menjadi mimpi buruk. Itulah yang dialami oleh Yasinta Moiwend, seorang
perempuan suku Marind Anim di Merauke. Sebuah kapal raksasa bersandar di
dermaga kampungnya, mengangkut ratusan ekskavator di bawah kawalan ketat
tentara Indonesia. Itulah rombongan pertama dari 2.000 alat berat yang datang
dalam rangka Proyek Strategis Nasional (PSN). Atas nama “ketahanan pangan” dan
“transisi energi”, hutan adat seluas 2,5 juta hektar—salah satu konversi hutan terbesar
dalam sejarah dunia modern—dijadikan perkebunan industrial tanpa persetujuan
masyarakat setempat.
Video Dokumenter =>
Nasib serupa menimpa Vincen Kwipalo dari suku Yei yang
terkejut melihat tanah marganya tiba-tiba dipatok dengan tulisan: “Tanah Milik
TNI AD” untuk pembangunan markas batalyon militer. Sebagai bentuk perlawanan,
Franky Woro dan komunitas Awyu di Boven Digoel, bersama suku-suku lain seperti
Muyu, menginisiasi Gerakan Salib Merah. Mereka memasang setidaknya 1.800
salib merah raksasa untuk membentengi hutan mereka dari biodiesel sawit dan
bioetanol tebu. Ironisnya, gerakan pertahanan berbasis simbol agama ini pun
tidak selalu mendapat dukungan dari elit gereja setempat. Dokumenter ini secara
gamblang memperlihatkan bagaimana isu eksploitasi tanah ini berkelindan erat
dengan narasi separatisme dan rekam jejak 60 tahun operasi militer di Papua.
Di Balik Gurita Korporasi: Siapa yang Menikmati
"Pesta"?
Hal yang paling menonjol dari dokumenter investigatif ini
adalah keberaniannya menampilkan penelusuran data mengenai afiliasi bisnis.
"Pesta Babi" membongkar gurita korporasi dan memetakan aktor-aktor
utama—baik dari kalangan oligarki lokal maupun elit nasional—yang menerima
manfaat finansial terbesar dari kehancuran ekologis Papua. Masyarakat adat
hanya mendapatkan ampas dan intimidasi, sementara para pemegang saham di ibu
kota berpesta pora di atas hilangnya ruang hidup suku Marind, Yei, Awyu, dan
Muyu.
Solusi dan Harapan: Menuju Keadilan Hakiki
Menghadapi lingkaran setan kolonialisme modern ini, apa
solusi dan harapan yang harus diperjuangkan?
1. Pengakuan
dan Perlindungan Hak Adat secara Hukum: Pemerintah harus menghentikan
pendekatan top-down yang represif. Solusi utama adalah pengesahan RUU
Masyarakat Adat dan pengakuan secara hukum atas tanah ulayat tanpa syarat yang
rumit. Proyek pembangunan tidak boleh berjalan tanpa adanya Free, Prior, and
Informed Consent (FPIC) atau persetujuan di awal tanpa paksaan dari
masyarakat adat.
2. Evaluasi
Total Proyek Strategis Nasional (PSN): Konversi hutan skala masif
atas nama transisi energi hijau yang justru merusak lingkungan (greenwashing)
harus diaudit secara independen. Pembangunan harus berbasis pada kebutuhan
lokal, bukan kebutuhan pasar global atau syahwat politik korporasi.
3. Demiliterisasi
dan Pendekatan Dialog: Menghentikan pendekatan keamanan
(security approach) yang menggunakan militer untuk mengawal investasi.
Pengamanan tanah Papua harus dikembalikan pada esensi perlindungan kemanusiaan,
bukan perlindungan aset korporasi.
4. Solidaritas
Publik Luas: Melalui platform seperti MELAJAH.COM, harapan
terbesar adalah terbangunnya kesadaran kolektif masyarakat Indonesia. Kita
tidak boleh menutup mata; apa yang terjadi di Papua adalah alarm bahaya bagi
kemanusiaan dan kelestarian ekologi dunia.
Mari kita terus melajah, membuka mata, dan berdiri
bersama masyarakat adat Papua yang sedang berjuang mempertahankan tanah ibu
mereka.

Belum ada Komentar untuk "Di Balik Layar "Pesta Babi": Siapa Saja Oligarki yang Menikmati Hasil Bumi Papua?"
Posting Komentar