NGOPI BARENG PENDIRI HSPG BALI: DOKTER HEWAN YANG MENJINAKKAN KERUMITAN PENDIDIKAN MANUSIA
Salam Melajah!
Pendidikan bukan sekadar tentang angka di
rapor, peringkat di kelas, atau siapa yang paling cepat menjawab soal. Di balik
setiap anak, selalu ada potensi, keunikan, dan cerita yang layak dipahami.
Kali ini, Melajah.com mengajak semeton
pembaca menikmati secangkir kopi virtual bersama drh. Yekti Wulan Cahyani,
M.Pd., pendiri Homeschooling Primagama (HSPG) Bali. Sebuah obrolan santai
di Mantra Coffee, Kuta, Bali, yang menghadirkan banyak renungan tentang makna
pendidikan, pentingnya memahami karakter anak, dan keberanian untuk melihat
keberhasilan dari sudut pandang yang berbeda.
Dari percakapan yang hangat ini, kita
belajar bahwa tidak semua anak harus menjadi juara matematika untuk memiliki
masa depan yang cerah. Setiap anak memiliki jalan tumbuhnya sendiri, dan tugas
pendidikan adalah membantu mereka menemukan serta mengembangkan potensi
tersebut.
Penasaran bagaimana seorang dokter hewan
menapaki dunia pendidikan dan memandang keunikan setiap anak? Mari simak kisah
lengkapnya dalam artikel di bawah ini!
Sebab di Melajah.com, kita tidak hanya
belajar untuk mengetahui, tetapi juga belajar untuk memahami.
Ngiring Melajah! Menemukan Pengetahuan dalam
Satu Ruang Belajar.
drh. Yekti Wulan Cahyani, M.Pd.: Merawat Keunikan Anak, Bukan Memaksa Semua Jadi Juara Matematika
Seruput dulu kopinya, Bli!
Sebab kali ini saya bertemu perempuan yang
membuat saya berpikir: ternyata pendidikan itu bukan sekadar urusan nilai
rapor, ranking, dan orang tua yang mendadak jadi satpam grup WhatsApp sekolah!
Perkenalan kami bermula dari tulisan saya
tentang Rocky Gerung masuk istana. Tulisan itu rupanya menjadi jembatan menuju
pertemuan di Mantra Coffee, Jalan Sunset Road, Kuta, Badung, Bali. Di sana saya
bertemu drh. Yekti Wulan Cahyani, M.Pd., pendiri Homeschooling Primagama
(HSPG) Bali.
Awalnya, obrolan ngalor-ngidul. Diskusi
serious diselingi canda, ditemani kopi dan pisang goreng. Kombinasi berbahaya!
Niatnya ngopi sebentar, tahu-tahu waktu sudah lari maraton.
Saya pun bertanya, “Ibu, kenapa tidak
membuka lembaga pendidikan besar sekalian? Gedung megah, murid ribuan, parkiran
luas, kalau perlu lift biar kelihatan seperti kampus internasional!”
Beliau tersenyum. Jawabannya membuat saya
berhenti mengunyah pisang goreng.
Prinsipnya sederhana: lebih baik mengelola
sedikit siswa, tetapi kualitas pelayanan dan pendidikannya benar-benar
diperhatikan.
Nah, ini baru menarik! Di zaman banyak orang
berlomba membesarkan gedung dan mempercantik papan nama, beliau justru sibuk
memastikan setiap anak mendapatkan ruang untuk tumbuh.
HSPG Bali hadir untuk anak-anak yang
membutuhkan pendekatan pendidikan berbeda, termasuk:
- Anak dengan kebutuhan khusus,
- Anak yang memiliki jadwal padat, hingga
- Mereka yang kurang cocok dengan sistem
sekolah konvensional.
Muridnya pun berasal dari beragam latar
belakang, termasuk keluarga artis dan pengusaha. Tetapi bagi beliau, status
keluarga bukanlah ukuran utama. Yang penting, anak itu punya potensi dan harus
dibantu menemukan jalannya.
Lalu saya bertanya lagi, “Strateginya bagaimana, Bu?”
Jawabannya bukan mantra sakti, bukan pula
jurus marketing level dewa. Kuncinya adalah visi yang kuat, konsistensi, dan
pelayanan yang sungguh-sungguh. Namun, ada satu pemikiran beliau yang paling
membekas di kepala saya:
“Setiap anak yang dilahirkan Allah pasti
memiliki kelebihan.”
Ada anak yang aktifnya luar biasa, ada yang
kesulitan berhitung, ada yang lebih banyak diam. Jangan buru-buru memberi cap
nakal, bodoh, atau tidak mampu. Kenali kebutuhannya, pahami karakteristiknya,
lalu cari pendekatan yang tepat. Sebab anak yang kesulitan dalam satu bidang
belum tentu tidak memiliki keunggulan di bidang lain.
Bu Wulan meyakini bahwa tugas pendidikan
bukan memaksa semua anak memiliki kemampuan yang sama, melainkan membantu
mereka mengembangkan potensi masing-masing. Prinsip ini sejalan dengan
pembelajaran terdiferensiasi: tujuan dan pendekatan pembelajaran disesuaikan
dengan kebutuhan serta kemampuan anak.
Saya membayangkan, betapa banyak anak yang
selama ini dianggap bermasalah, padahal mungkin orang dewasa di sekelilingnya
belum menemukan cara memahami mereka. Waduh, kalau semua anak dipaksa pintar
dengan ukuran yang sama, jangan-jangan yang perlu ikut ujian bukan cuma murid,
tetapi juga sistem pendidikan kita!
Dari seorang dokter hewan bergelar drh.
hingga meraih gelar magister pendidikan, perjalanan Bu Wulan menunjukkan
keberanian lintas bidang. Ia tidak berhenti pada gelar, tetapi menerjemahkan
kepeduliannya menjadi ikhtiar nyata di dunia pendidikan.
Saya pun duduk berjam-jam tanpa terasa. Kopi
tinggal kenangan, pisang goreng tinggal sejarah, tetapi pelajarannya masih
menempel di pikiran. Hari itu saya pulang membawa satu kesimpulan: orang sukses
bukan selalu orang yang membangun sesuatu paling besar, melainkan orang yang
tahu apa yang harus dibangun dan siapa yang harus diperjuangkan.
Terima kasih, drh. Yekti Wulan Cahyani,
M.Pd., atas obrolan yang bukan hanya menghibur, tetapi juga membuka cara
pandang. Dari Mantra Coffee, saya belajar bahwa pendidikan terbaik bukan pabrik
pencetak anak seragam. Pendidikan adalah seni menemukan cahaya yang berbeda
dalam setiap diri manusia.
Sebab setiap anak punya masa depan. Jangan
sampai masa depannya redup hanya karena kita terlalu sibuk membandingkannya
dengan anak tetangga!
Salam kopi, salam inspirasi, dan salam pendidikan yang memanusiakan manusia!

Belum ada Komentar untuk "NGOPI BARENG PENDIRI HSPG BALI: DOKTER HEWAN YANG MENJINAKKAN KERUMITAN PENDIDIKAN MANUSIA"
Posting Komentar